Thursday, December 07, 2006

Fenomena: Aa Gym, Poligami dan Revisi UU Pernikahan

Oleh: Yunita Ramadhana

Bukanlah rahasia umum lagi bahwa poligami telah menjadi pokok pembahasan yang amat menarik di masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Fenomena ini semakin marak di bicarakan setelah kebanyakan para public figure yang tidak pernah lepas dari perhatian umum, melakukan poligami dan mempublikasikannya ke khalayak ramai. Sebenarnya hal ini bukanlah hal yang baru dan tidak hanya dilakukan oleh public figure, masyarakat biasapun banyak yang melakukannya. Hanya saja hal ini mencuat ke permukaan karena pelakunya seorang public figure, dengan demikian media massa yang gemar mencari sisi lain dari kehidupan seorang public figure mempublikasikannya secara besar2an.

Maraknya fenomena poligami ini, telah melahirkan begitu banyak pro dan kontra di masyarakat, terutama kaum perempuan. Ditambah lagi dengan adanya kabar terbaru bahwa seorang pemuka agama yang cukup kondang dan ternama, K. H. Abdullah "Aa Gym" Gymnastiar, yang pernah mengatakan bahwa: satu istri saja sudah menghasilkan anak tujuh, sudah cukuplah, melaksanakan pernikahannya yang kedua baru2 ini. Tentu saja hal ini mengejutkan seluruh masyarakat, bagaimana mungkin seorang Aa yang selama ini terlihat begitu mesra dan sayang pada istrinya melakukan tindakan ini? Ada apa dengan beliau dan pernikahannya? Mayoritas masyarakat terutama perempuan menentang tindakan poligami ini, dan tentu saja ini berpengaruh terhadap karir beliau sebagai seorang ulama. Kebanyakan dari mereka menganggap hal ini sebagai pelecehan terhadap kaum perempuan dan melanggar HAM. Benarkah demikian?

Apabila kita lihat dari satu sisi aja, tentulah kita sebagai kaum perempuan menggapnya benar. Tapi, untuk menganalisa sebuah fenomena di masyarakat, kita tidak boleh memandang dari satu sisinya saja. Sebagai contoh, selain mempertimbangkan segi emosi diri kita sendiri, kita juga harus mempertimbangkan aturan2 yang ada dalam masyarakat, terutama aturan agama. Di dalam agama, dalam hal ini agama Islam, Poligami bukanlah hal yang di larang. Islam memperbolehkan poligami, tapi dengan beberapa ketentuan. Jika seseorang melakukan poligami dia harus mempunyai alasan yang kuat mengapa ia melakukan poligami dan harus dapat adil dlm berbagai hal terhadap istri2nya. Apabila ia tidak mempunyai alasan yang kuat dan tidak bisa berlaku adil, maka poligami itu tidak di perbolehkan. Dan yang lebih penting lagi, sebelum melakukan poligami, seorang suami harus sudah mengantongi surat izin dari istri pertamanya, jika tidak, tidaklah halal baginya melakukan poligami. Alasan2 ini bisa meliputi berbagai hal, bisa karena ingin memperoleh keturunan, atau sang istri sudah tidak mampu lagi melayani suaminya baik lahir maupun batin, dan alasan2 lain yang sesuai dengan syariat Islam, dan melakukannya karena Allah semata bulan karena kepuasan sesaat, karena manusia itu tidak akan pernah ada puasnya.

Kembali ke soal Aa Gym tentang pernikahan keduanya dan tanggapan masyarakat akan hal itu. Tentu saja sudah dapat di tebak, bahwa mayoritas masyarakat menentang pernikahan itu dan mengecam tindakannya sebagai tindakan yang melecehkan kaum perempuan dan mengecapnya sebagai suami yang tidak setia, yang tega menyakiti hati istrinya, karena bagaimanapun tidaklah ada seorang perempuan pun di muka bumi ini yang rela berbagi kasih dengan orang lain apalagi harus berbagi suami. Namun, di dalam Islam juga di jelaskan bahwa bagi istri yang dengan ikhlas menerima suaminya menikah lagi akan mendapatkan surga dan tempat mulia di sisi Allah.

Menyikapi pernikahan kedua Aa Gym, saya sebagai seorang perempuan jujur saja merasa kecewa dan kurang respect dengan tindakan beliau. Perasaan saya mengatakan itu tidak adil. Mengapa pernikahan yang telah sekian lama di rintis harus di selingi dengan poligami? Apakah ia tidak tahu, bahwa hal ini pasti menyakiti hati istrinya? Saya yang bukan Teh Ninih aja merasa sakit hati dan emosi mendengarnya, apalagi Teh Ninih sendiri? Omong kosong belaka kalau dikatakan cemburu itu tidak ada, pastilah ada walaupun sedikit. Istri Nabi Muhammad SAW, Aisyah, pun merasakan cemburu, apalagi kita yang bukan apa2. Tapi, logika saya kembali berfikir. Mengapa saya harus mengahakimi mereka? Sebagai pengamat kita hanya bisa memberikan pendapat bukan menghakimi, karena kita juga tidak tahu apa yang sedang terjadi di keluarga mereka dan apa yang mereka bicarakan. Hanya mereka dan Allah sajalah yang tahu apa yang terjadi di keluarga mereka. Seingat saya, Teh Ninih pernah berkata, dia mengikhlaskan Aa untuk menikah lagi karena dia tidak bisa terus2an menemani Aa kalau ia harus berceramah ke luar daerah. Mungkin dengan adanya poligami ini dapat menjadi solusi untuk permasalahan mereka.

Tapi sikap istri pertama beliau, Teh Ninih, membuat saya berdecak kagum. Sungguh tegar dan kuat perempuan ini, mampu menghadapi dan menerimanya dengan lapang dada walau tidak bisa di pungkiri lagi rasa kecewa itu pasti ada, masih mampu tersenyum ikhlas kepada suaminya, benar2 seorang muslimah sejati. Tiada hadiah yang pantas baginya selain surga dan tempat yang mulia di sisi Allah. Walaupun di salah satu Headline media massa di katakan bahwa antara Teh Ninih dan Alfarini-istri kedua Aa-tidak saling bertegur sapa walau mereka jalan bersama, wallahua'lam itu benar atau tidak. Tapi, menurut saya itu hal yang wajar. Terlebih lagi melihat anak2 beliau yang begitu tegar mengetahui bapaknya menikah lagi, kekaguman saya semakin bertambah. Kalau saya anaknya, tau deh apa yang akan saya lakukan dengan madu ibu saya, wallahua'lam.

Namun, tindakan poligami ini janganlah di salah artikan, karena kebanyakan lelaki di negeri ini menyalah artikan poligami. Poligami bukanlah hanya beristri lebih dari satu. Poligami bukan hanya untuk menghindari zina. Kalau niatnya hanya untuk menghindari zina, Allah juga tidak menyukainya. Karena, di dalam Al-Qur'an, Allah menegaskan bahwa kita harus mampu untuk mengendalikan hawa nafsu dan emosi kita. Poligami itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Jika ingin berpoligami, harus siap dengan segala konsekwensinya, harus bisa berlaku adil yang sebenar2nya adil, bisakah anda melakukannya?

Dengan semakin bertambahnya pelaku poligami dalam masyarakat, pemerintah segera mengambil tindakan dengan rencana untuk merevisi UU No. 49, tentang pelarangan poligami, dimana sebelumnya dikatakan bahwa poligami tidak diperbolehkan untuk PNS (Pegawai Negeri Sipil)saja, yang juga tercantum di dalam peraturan kepegawaian yakni PP No. 13, kini akan diperluas dan tidak hanya berlaku untuk PNS tapi juga warga sipil biasa dan pejabat tinggi negara. Kemungkinan hal ini diakibatkan oleh tuntutan kaum perempuan yang tidak menyetujui poligami. Pada awalnya saya menyambut baik rencana perevisian ini. Namun ketika saya kaji lebih lanjut apa dampak yang akan di timbulkan oleh tindakan ini, saya menarik kembali pendapat saya.

Dengan adanya pelarangan ini, maka akan banyak dampak negatif yang akan di timbulkan, Sebagai contoh, hal ini bisa saja membuat sarana prostitusi semakin bertambah, karena para suami akan "jajan" di luar, anak2 yang lahir tanpa adanya pengakuan secara hukum, perzinahan yang merajalela, dan mungkin saja hal2 lain yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Tanpa di larang saja, hal ini sudah banyak terjadi, apalagi kalau di larang. Tidak ubahnya seperti seorang anak kecil yang di larang orang tuanya untuk memanjat pohon, semakin dia di larang semakin besar keinginannya untuk memanjat pohon.

Dengan demikian, timbul ide di pikiran saya, bahwa poligami itu jangan di larang, tapi di berikan lagi aturan2 baru yang mempertegas boleh tidaknya seorang melakukan poligami. Misalnya, adanya bukti hitam di atas putih bahwa istri yang akan di madu bersedia melepaskan suaminya untuk menikah lagi, dan di sahkan melalu notaris. Apabila ketentuan ini tidak ada, maka secara otomatis pernikahan kedua itu gugur dan cacat hukum. Selain contoh di atas, masih ada aturan2 lain yang bisa di terapkan untuk mementapkan aturan tentang poligami. Karena kalau poligami itu di larang, sama saja artinya kita menentang aturan agama yang sudah di tetapkan dalam Al-Qur'an, sebab di dalam Al-Qur'an sudah di jelaskan secara terperinci tentang aturan poligami. Jika kita tidak sanggup untuk di poligami, kita boleh tidak menerimanya, karena Allah tidak pernah memaksa umatnya untuk menerima poligami. Sebagai muslimah kita boleh tidak mau di poligami, apabila kita memang tidak siap dan tidak ikhlas, Islam itu agama yang fleksibel. Kita hanya boleh tidak menyetujui poligami, tapi tidak menentangnya. Kalau sebagai manusia saja kita sudah berani menentang aturan yang ada dalam agama, maka niscaya laknat Allah akan segera datang. Dan apa gunanya kita meyakini agama sebagai pedoman kita dalam menjalani kehidupan ini, kalau toh akhirnya kita masih meragukan aturan yang sudah di gariskan oleh sang Khalik.

Bagaimana dengan anda, setujukah anda dengan rencana perevisian UU No. 49 tentang pelarangan poligami? Semua kembali kepada anda.

Scholarship Blog International Scholarships

 

14 Comments:

At 8:36 AM, Blogger bung dolf said...

mbak sendiri setuju gak kalo dipoligami ?
atau coba tanya sama ibu nya mbak
"bu, kalo bapak mo poligami gimana menurut ibu ?"

 
At 4:40 PM, Anonymous satriyo said...

salam kenal, Ramadhana (I prefer calling u this as it has beautiful meaning!),...
i see that you are ... er ... were ... a fan of Aa's ... and now like what most muslima able to speak forth are quite upset with what Aa has done regarding his second marriage.
well, my comment is, it's better for Aa to show that he is just another guy, who happens to have made a decision to marry another women out of fear of Allah, rather than fear of fellow human.
i'm not taking sides but what makes really concerned is the way people, even muslims treated Aa, as if he is worse then any criminals, be it rapist, corruptors or even another husband who always cheats on his wife ...
Is he that bad? Or he is simply not what you expect him to be: a man of your dream?
well, wake up call is on so get back to reality and face the fact that what he has done causes more benefit than harm.
What about Teh Ninih? So, what about her? I knew from Teh Ninih herself (I was there) that she is not jealous, ... but SUPER jealous! How can she not be? But all is well that ends well ...
Time will tell if Aa has made the right decision or not, at least for his family.
Btw, di India di mana mba?
Saya dulu sempat SMP di Islamabad. Tapi selama di sana ko ga sempat visit ke India ...
Take care now ...
:-)

 
At 5:02 AM, Blogger Yunita Ramadhana said...

To Satriyo,
Thanks for ur comment. But, there's something that I have to be stated here. I never told that I,my self, can't accept his second marriage, and speak like another muslima. You may check in my article, in the 3rd and 5th paragraph. I say that it's none of my business for judging him. It's his prerogative right. I never upset with him. I feel dissappointed only, as i'm a woman. I even said that maybe he has an acceptable reason for doing that, but he can't tell it to everyone. I never judged him as a bad man, since he is a human being also.

Btw, di India, saya tinggal di New Delhi. Ada kan di profile saya, Jamia Millia Islamia University, New Delhi.

 
At 5:42 AM, Blogger Yunita Ramadhana said...

To: bung Dolf,
Terima kasih atas komentarnya.
Sejujurnya kalau saya di tanya apakah saya setuju atau tidak di poligami, saya punya dua jawaban. Jika saya harus menjawab atas nama pribadi, Insya Allah saya tidak mau di poligami. Tapi, jika saya ditanya atas nama seorang muslimah, saya tidak menentang poligami. Silahkan saja kalau anda mau berpoligami, karena Islam tidak melarangnya. Islam memper-BOLEH-kannya, bukan SUNNAH. Sunnah dan Mubah (boleh) adalah dua hal yang berbeda. Tapi ingat, harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku di syariat Islam.

Kalau saya bertanya kepada ibu saya, maka dengan cara spontan dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya dia akan berkata:
"Pilih dia atau Aku". Dengan kata lain, lebih baik cerai daripada dimadu.

Sebagai anak, saya pernah berkata kepada bapak saya. "Pak, kalau hendak berpoligami, pikirkan lagi berulang2. Punya satu istri dan 3 orang anak saja sudah megap-mentol, dan banyak masalah, apalagi kalau harus nambah, apa gak tambah puyeng? Kalau sampai kami semua bernasib tak jelas, ingat dosa yang akan bapak tanggung, apalagi kalau kami sampai terlantar. Kerak nerakalah tempat bapak bernaung kelak, kalau sampai itu terjadi." Beliau kaget dan marah mendengar omongan saya. Tapi saya jawab dengan santai. "Bapak jangan marah, saya hanya mengingatkan, sebelum semua terlanjur terjadi. Penyesalan di belakang tiada berguna." Dan akhirnya, dia tersenyum dan menjawab, "Insya Allah, Bapak tidak akan berpoligami," sambil mengelus kepala saya. Saya menjawab, "Amiin..." Kata2 inilah yang akan saya ucapkan pada suami saya kelak. Mencegah lebih baik daripada mengobati bukan?

Dan syukur alhamdulillah, hingga saat ini, bapak saya hanya punya 1 istri, dan mudah2an untuk selamanya, amiin...

 
At 12:12 AM, Anonymous ridwan said...

Ini situsnya:
http://beritaheboh.wordpress.com/2007/09/27/akibat-poligami-aa-gym-bangkrut/

Akibat poligami, AA Gym bangkrut

Gara-gara poligami, dai kondang AA Gym kini jarang dipakai lagi. Bahkan kini, usaha yang dirintisnya juga mengalami kebangkrutan. Kabarnya lagi, para karyawan yang dipecatnya kecewa karena pesangonnya kecil.
Pegawai Da’arut Tauhid yang telah dipecat melakukan aksi protes karena pesangon yang diterima tidak sesuai. Menurut salah satu karyawannya yang dipecat, Manajemen Qolbu pimpinan AA Gym sudah berbuat tidak adil dan tidak sesuai dengan isi-isi ceramahnya selama ini.
Seperti diketahui sejak AA Gym memutuskan menikah lagi dengan janda cantik bernama Teh Rini, banyak orang memprotes dirinya dan menjadi tidak simpati lagi dengan AA Gym. Justru ketabahan Teh Nini, istri pertama AA Gym mendapat dukungan publik sehingga ia kini lebih sering tampil di muka publik dibanding AA Gym.
Ternyata poligami justru membuat masalah sendiri dalam kehidupan AA Gym. Mungkin jika AA Gym tidak berpoligami, Manajemen Qolbu tidak akan ditinggalkan sebagian orang dan tidak mengalami kebangkrutan. (ai)

 
At 10:14 PM, Blogger waldi said...

saya setuju,poligami itu dibolehkan dengan aturan2 tertentu dan jangan dilarang.justru yg harus dilarang adalah perselingkuhan,punya istri simpanan dan perbuatan mesum lainnya.selama ini saya lihat masalah poligami hanya dilihat dr sisi perempuannya saja yg dikatakan sbg pihak yg teraniaya atau disakiti,dan mengatakan lelaki sbg pihak yg melakukan kekerasan dan mau enaknya sendiri.padahal banyak lelaki yg berpoligami juga tidak rela jadi "pejantan" bagi perempuan,dia melakukan poligami untuk sesuatu yg diyakini akan lebih baik bagi keluarga dan masyarakat.
Allah berfirman:..bahwa diantara isteri2 dan anak2 mu ada fitnah maka hati2lah kpd mereka (At Thagabun :14).Dengan turunnya ayat ini nabi tidak menakut-nakuti umatnya spy difikir2 lg kalo mau menikah krn resiko dan tanggung jawab diakhirat sangat berat.Tapi dlm hadits Rosulullah beliau menyuruh kpd pemuda yg sudah sanggup menikah untuk menikah.Bahkan dlm hadits yg lain dikatakan bahwa seburuk2nya manusia adalah yg hidup membujang. Apa yg dpt kita tarik pelajaran dr sini,bahwa ada suatu perbuatan,ada suatu ibadah yg sangat tinggi nilainya tp sangat rentan dgn fitnah.Menikah sangat rentan dgn fitnah,tp justru dgn menikahlah kita menyempurnakan setengah agama kita.Begitupun berpoligami,akan banyak menimbulkan fitnah tp disitulah Allah ingin menguji hamba-Nya,ingin menantang hamba-Nya untuk berbuat adil karena adil itu lebih dekat kepada takwa.Selama ini banyak laki2 termasuk diri saya sendiri blm bisa berbuat adil krna untuk adil hrs ada pembandingnya dan lebih dr satu.Tp sy berdoa kpd Allah,bhw sy tidak berpoligami bukan krna takut akan cercaan manusia dan juga takut akan cercaan istri saya krna sy hanya takut kpd Allah.sy tidak berpoligami krna sy msh hrs memperbaiki diri dan menguatkan diri dgn fitnah yg ada.
wassalam

 
At 7:16 AM, Anonymous Anonymous said...

Sudahlah, itu sudah menjadi pilihan Aa Gym. Lagipula, kita tidak berhak menghakimi rumah tangga orang. Lebih baik kita mengurusi rumah tangga kita sendiri.

Dari setiap sesuatu hendaknya kita mengambil hikmahnya. Bagi saya melihat fenomena Aa yang berada di puncak ketenarannya, saya melihat betapa orang-orang sangat mengkultuskan diri beliau. Motivasi orang mau mendengarkan ceramah banyak karena alasan "karena Aa". Padahal kita harus mengingat, Aa Gym juga manusia, barangsiapa mengharap kesempurnaan dari manusia biasa maka ia adalah membodohi diri sendiri. Tetapi barangsiapa ingin melihat kesempurnaan sejati, hanya ada pada Robb kita, Allah SWT. Mungkin ini sudah jalan Allah, dan juga pilihan tepat bagi Aa', dimana orang mulai mengkultuskan dirinya, dan Allah memberinya jalan, agar tidak melenceng dari tujuan dakwah yang besar. Ingat, kita adalah hamba Allah, bukan hamba dari manusia.

Aa kini menjadi sasaran penghakiman besar-besaran, tetapi sadarkah kita bahwa fenomena kejahilan di sekitar kita lebih perlu mendapat perhatian kita, khususnya masalah syahwat, adakah kita memperhatikannya untuk kemudian memberangusnya? Perzinahan, korupsi, pejabat yang senang booking wanita simpanan, dan lain sebagainya?

Introspeksilah....

 
At 9:44 PM, Blogger Janten said...

Hanya binatang jalang yang memperturutkan hawa nafsu dengan mengatasnamakan agama. Salam kenal, mba'e

 
At 11:24 AM, Anonymous Anonymous said...

to janten yang merasa paling beragama dan tau agama.

gimana dengan orang yang menuruti hawa nafsunya tanpa menggunakan aturan agama.

loe mungkin lebih permisive terhadap penzinah yang "jajan" tapi tidak ketahuan istrinya, dibanding seorang lelaki yang jantan secara aturan agama menikahi seorang perempuan dengan baik2 agar kelak anaknya mendapat pengakuan hukum sebagai anak sah hasil perkawinan.

apa loe bisa memberikan solusi terbaik bagi seorang perempuan yang telah ditinggal suami namun membutuhkan perlindungan dari seorang laki2 yang bersedia menjadi suaminya, seandainya tidak ada laki2 tanpa istri yang bersedia menerimanya menjadi istri.

 
At 10:47 PM, Anonymous Anonymous said...

saya miris apabila poligami hanya dijadikan tameng seorang laki-laki untuk memuaskan nafsunya saja, poligami seharusnya hanya dijadikan solusi apabila sang istri tidak bisa menjalankan kewajibannya, namun nyatanya ekarang poligami seolah dijadikan hal yang wajar dilakukan terutama apabila si suami merasa istrinya tidak muda lagi, tidak semenarik dulu lagi...

 
At 7:03 AM, Blogger jucky, ssy said...

poligami itu halal sedangkan zina itu sudah jelas haramnya jadi pilih mn....
hukum allah atau nafsu setan.....
poligami itu memiliki hikmah yang banyak ketimbang poligami dilarang karna apabila dilarang sama hal nya murtad menentang hukum allah dan tidak di akui pengikut muhammad Saw karna tidak mencontoh junjunganya......

 
At 7:25 PM, Anonymous Anonymous said...

segala sesuatu yang tidak dilarang, itu tidak berarti bahwa itu BAIK. Apalagi perlu dilakukan.
Mungkin perlu dihindari malah!?
coba aja mbak!
Kalo untuk mengurangi prostitusi, bgmn dengan wanita yang sakit hati krn dimadu?
orang sakit hati itu bisa membalas berbuat apa aja ?
bagaimana dengan wanita yg kehilangan kepercayaan dirinya krn suaminya poligami?
tidak semua bisa bertahan waras, apalagi bahagia.
coba aja mbak buktikan kalo mampu seumur hidup bahagia mbak dipologami.
trus apa maksudnya mbak buat artikel itu?

 
At 7:27 PM, Anonymous rina said...

selamat deh kalo mbak pikir itu hal yang baik buat mbak dan suamimu

 
At 5:43 PM, Anonymous Anonymous said...

Huf, untung agama ane tidak mengijinkan hal itu, anak kalau tidak diberi ya minta pada TUHAN, percaya kuasaNYA mampu membuka pintu kandungan....ga ada caranya tuh mandul dibuang gitu aja..kalau yang mandul yang laki, yang wanita harus menerima.....
Ga kawin = buruk...ah mana ada tuh..banyak orang melepaskan keduawiannya dan hidup damai, fungsinya mendoakan dunia, menyerahkan hidupnya untuk kepedihan masyarakat, mana yang buruk....malah yang kawin itu yang jatuh dalam cobaan korupsi, penyelewengan uang, dll...nah Lo..lihat aja buah2nya dulu

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home


:: F R I E N D S ::
|| Purwarno Hadinata || Rozio || A. Fatih Syuhud || Rizqon Khamami || A Qisai || Lukman Nul Hakim|| Zamhasari Jamil|| Rini Ekayati|| Najlah Naqiyah || Zulfitri || Fadlan Achdan|| Tylla Subijantoro|| Mukhlis Zamzami|| Edward Ott|| Thinley|| Ahmed|| Dudi Aligarh|| Irwansyah Yahya|| Ikhsan Aligarh|| Zulfikar Karimuddin || Zamhasari || Pan Mohamad Faiz || Bayu || Asnadi Hasan || Umi Kalsum || Erdenesuvd Biraa || Andi Bagus || Madha Yudis || Belum mandi || Koeaing || Hamzar || Rosa || Ghifarie || Kawas || Wazeen || Swara Muslim || Forum Swara Muslim ||

Yunita Ramadhana Blog   Scholarship Blog

Yunita Ramadhana Blog   The World of English Literature


    Subscribe in NewsGator Online   Subscribe in Rojo   Add Goresan Pena Yunita to Newsburst from CNET News.com   Add to Google     Subscribe in Bloglines   Add Goresan Pena Yunita to ODEO   Subscribe in podnova     Subscribe in a reader   Add to My AOL   Subscribe in FeedLounge   Add to netvibes   Subscribe 

in Bloglines   Add to The Free Dictionary   Add to Bitty Browser   Add to Plusmo   Subscribe in 

NewsAlloy   Add to Excite 

MIX   Add to Pageflakes   Add to netomat Hub   Subscribe to Goresan Pena Yunita   Powered by FeedBurner   I 

heart FeedBurner


eXTReMe Tracker